Sabtu, 05 Juni 2010

BEKATUL PADI TURUNKAN KADAR KOLESTEROL DARAH

Bandung, Sinar Harapan

Sebagai negara agraris, Indonesia setiap tahun mampu menghasilkan 47 juta ton padi. Jumlah ini setara dengan 32 juta ton beras per tahun. Produksi sektor pertanian lainnya adalah bekatul.
Bekatul merupakan hasil samping dari proses penggilingan padi serta penyosohan beras. Selama ini bekatul hanya dimanfaatkan sebagai komponen pakan ternak dan unggas. ” Padahal bekatul memiliki beberapa kegunaan lain,” papar Guru Besar FMIPA Universitas Padjajaran Bandung, Ukun MS Soedjanaatmadja kepada SH beberapa waktu lalu. Di antaranya adalah kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Bekatul juga memiliki kandungan minyak antara 12-25 persen. Kandungan minyak ini tergantung kepada varietas padi, tingkat penyosohan serta kondisi dan lamanya penyimpanan bekatul.Minyak yang dihasilkan dari bekatul ini terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total serta lippoprotein berkeratan rendah.

Di samping itu, bekatul memiliki kadar protein yang bersifat hipoallergenik yang cocok untuk dipakai sebagai ramuan untuk makanan bayi dan makanan sapihan (weaning formula).
Proses pembuatan minyak bekatul dimulai dengan cara ekstrasi menggunakan pelarut n-heksan (food grade). Proses ekstrasi 100 gram bekatul padi halus dilakukan selama 4 jam dalam alat soxhlet. Ekstrak ini kemudian diuapkan pelarutnya dengan evaporator vakum.
Dari penguapan ini dihasilkan residu yang mengandung gum, malam serta asam lemak bebas. Gum dihilangkan dengan menambah air dan pemanasan pada suhu 60 derajat celcius. Malam dihilangkan dengan pendinginan pada suhu yang terendah. Dan asam lemak bebas dihilangkan dengan penambahan basa agar bisa larut dalam air.

Setelah itu dilakukan proses pemucatan memakai zeolit sebagai absorben untuk pigmen. Minyak bekatul ini berwarna kuning dan jernih. Menurut Ukun, dari 100 gram bekatul bisa dihasilkan minyak sebanyak 22,13 gram. Sedangkan komposisi kandungan lemak dalam minyak bekatul ini adalah 80 persen asam lemak tak jenuh (asam oleat dan linoleat) dan 20 persen merupakan asam lemak jenuh.
” Dengan kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi, minyak bekatul cocok untuk minyak makan. Minyak bekatul baik untuk mengurangi risiko penyakit jantung koroner,” jelas Ukun.

ISOLAT PROTEIN

Sementara untuk memperoleh ekstrak protein, bekatul diproses dengan cara ekstraksi alkali. Dengan penambahan larutan NaOH 1N suspensi disesuaikan pH-nya sampai 9,5. Suspensi ini kemudian disentrifugasi dalam waktu 30 menit.
Endapan protein yang dihasilkan lalu dicuci dengan air dengan pH 4,5 dan disuspensi dengan air suling yang memiliki kadar pH 7,0. Ukun mengatakan kandungan protein yang dihasilkan dari bekatul sekitar 11,94 persen.
” Bekatul banyak mengandung albumin dan globulin yang merupakan komponen protein,” tambah Ukun. Sedangkan kadar protein yang dihasilkan dari prose ekstraksi bekatul bisa mencapai 50,2 persen. Dengan kadar protein yang terhitung besar, maka bekatul dianggap cocok sebagai makanan bayi maupun makanan sapihan.
Hanya saja problemnya adalah isolat protein yang dihasilkan berwarna coklat. Ukun mengatakan warna tersebut ditimbulkan oleh adanya enzim polifenol oksidase. Warna coklat ini sendiri tidak berpengaruh terhadap kadar protein yang ada sehingga bekatul tetap dapat dimanfaatkan lebih ekonomis.
Pengembangan bekatul sebagai minyak makan maupun bahan makanan bayi perlu diteruskan. Dengan cara ini bekatul tidak lagi sekadar menjadi pakan ternak yang tidak memiliki nilai ekonomis.